Home > Kuliner > Senja dan Aroma Kopi di Java Dancer Coffee

Senja dan Aroma Kopi di Java Dancer Coffee

Saya tidak suka kopi. Jika terpaksa harus memilih antara kopi dan teh, saya pasti memilih teh. Sakit Maag yang saya derita memang tidak cocok jika harus berhadapan dengan kopi, walaupun itu kopi sachet. Tapi sesekali saya memang mencicipi pesanan kopi teman dan suami saya. Bagi saya, senja dan aroma kopi adalah dua hal yang saling melengkapi.

Yang saya suka dari kopi adalah aromanya. Aroma biji kopi yang sedang diseduh bagi saya lebih memabukkan daripada aroma bunga mawar atau bunga sedap malam. Maka saya sesekali pergi ke warung kopi atau cafe yang memiliki dapur terbuka sehingga kita bisa memandang dari dekat proses pembuatan minuman dari kopi.

Minggu sore ini saya memang berniat pergi ke tempat kopi. Saya memang sedang ingin menulis. Jika orang lain cenderung memiliki kebiasaan untuk menulis di tempat yang sepi agar bisa lebih berkonsentrasi, saya cenderung memilih untuk berada di tempat yang tidak terlalu ramai tapi juga tidak terlalu sepi. Saya suka mendengar orang lain mengobrol di dekat saya tentang banyak hal yang sebenarnya tidak menarik atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan saya.

Satu tempat ngopi yang cukup terkenal di Malang  bagi para penikmat kopi adalah Java Dancer Coffee.

Setelah berulangkali melewati Java Dancer Coffee yang terletak di dekat bundaran tugu dan kantor Walikota Malang, saya memutuskan untuk mampir di sana bersama dengan beberapa teman dolan. Tempatnya tidak terlalu luas, namun terkesan hangat dengan perabotan bernuansa kayu. Ada beberapa orang lain yang mengobrol di depan kami. Ada pula yang sedang serius mengetik. Seperti ini suasana Java Dancer Coffee yang berada di dekat bundaran Tugu Malang.

Kali ini saya menghabiskan senja dengan pergi ke Java Dancer Coffee yang terletak di Jalan Jakarta. Saya lupa kapan tepatnya pertama kali Java Dancer di Jalan Jakarta dibuka. Tapi tempatnya yang lebih dekat dengan tempat tinggal, membuat saya lebih memilih untuk mengunjungi cabang di Jalan Jakarta daripada yang di dekat bundaran Tugu Malang. Selain itu, di tempat yang baru ini, terdiri dari 2 lantai yang memisahkan smoking area di lantai 2 dan non smoking area di lantai 1. Yang paling saya suka, area untuk membuat kopi ada di tengah meja dan kursi pengunjung. Jadi kita langsung bisa menghirup aroma kopi. Saya memesan jus leci untuk menemani saya pada senja kali ini.

java-dancer-1

Sumber Foto : https://subculinary.wordpress.com/

 

java-dancer-2

Sumber Foto : https://subculinary.wordpress.com/

 

java-dancer-3

Sumber Foto : https://subculinary.wordpress.com/

 

java-dancer-4

Sumber Foto : https://subculinary.wordpress.com/

Suasana yang hangat disertai dengan semerbak aroma kopi. Hujan yang turun dengan perlahan. Suasana yang cukup melankolis untuk mengetik. Di sebelah saya, ada sekelompok wanita paruh baya yang bercerita dengan berapi-api tentang sahabatnya. Di belakang saya, ada barista yang sibuk membuat kopi. Jadilah saya menulis dengan hati yang tenang karena suasana hangat ini. Pelan-pelan, senja datang dan saatnya bagi saya untuk pulang.

Catatan :

  • Java Dancer Coffee, Alamat : Jl. Jakarta no.12 Malang (Seberang Coffee Toffee)
  • Jam Operasional : 10.00-24.00 WIB
  • Kisaran harga : Rp.15.000,-  s.d.  Rp.80.000,-

About Ria AS

Menyukai Buku, Hujan, dan Jalan-jalan. Penulis buku kumpulan puisi “Ada Hujan Turun Pelan-Pelan” (2013) dan buku kumpulan cerpen “Aku Mengenalnya Dalam Diam” (2015).

One comment

  1. wah kalau yang ini waktu aku kuliah lagi dibangun hahaha, ternyata sekarang kalau jadi bangunan dinamain java dancer coffee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*