Home > Info Malang > Osob Kiwalan: Boso Walikan Malang

Osob Kiwalan: Boso Walikan Malang

Bahasa Walikan Malang

Malang bagi saya bukan hanya sekedar masalah geografis. Ia adalah bentuk identitas yang melekat kemanapun saya pergi. Jika di kisah Harry Potter ada istilah darah campuran dan darah murni untuk menunjukkan kasta penyihir, maka saya adalah darah murni pake banget. Bagaimana tidak? Tempat ini adalah saksi saat nafas saya berhembus pertama kali. Menjadi latar tempat di mana kisah tentang tangisan, tawa, tumbuh dan belajar silih berganti mewarnai jalan hidup saya hingga kini.

Sebagai kera ngalam asli yang mulai Bapak, Emak, Mbah, sampai Mbah Boeyoet lahir di Malang. Gegara itu pula saya sempat berdoa moga dapat jodoh luar kota, minimal biar saya bisa merasakan asyiknya mudik pas hari raya. Walaupun pada akhirnya saya menyadari ternyata mudik luar kota itu capek, Sodara! Ha..ha..

Sebagai arema, bersentuhan dengan osob kiwalan (baca: boso walikan)itu udah familiar banget. Kita biasa mendengar kata waknyik, ebes, ipok sinam dan lainnya di sudut-sudut kota. Namun bagi pendatang istilah-istilah ‘ajaib’ ini kadang bikin repot. Bagaimana tidak, susah nemuin kamusnya. Dan kalo nggak bisa nyautin pake bahasa walikan hampir bisa dipastikan darahnya campuran. Hi..hi..

Berawal dari mengantar murid-murid lomba mading yang temanya tentang keragaman budaya, saya akhirnya mencoba riset kecil-kecilan (pake kata ‘riset’ ben keren, padahal asline googling wae modal kuota gratisan) tentang budaya di Malang. Nah, saat riset itu tanpa sengaja saya menemukan satu kosakata walikan yang bikin saya ketawa.

Dari situlah saya tertarik untuk menulis tentang bahasa walikan ini. Dialek Ngalaman dan Boso walikan (Osob Kiwalan) sebenarnya hanya membalikkan posisi huruf pada kosakata bahasa Jawa ataupun bahasa Indonesia pada umumnya. Namun tidak semua kata bisa dibalik seperti pada konsonan rangkap, afiks, dan gabungan suku kata yang tidak memungkinkan bisa dibalik.

Rasa kepo pada boso walikan ini mengantarkan saya pada kisah heroik Mayor Hamid Rusdi dan para laskarnya. Beliau gugur pada tanggal 8 Maret 1949 dalam pertempuran dukuh Sekarputih (sekarang Wonokoyo). Pada waktu itu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) membutuhkan bahasa khusus untuk menjamin kerahasiaan dan menjalin  komunikasi sesama pejuang. Sekarang kita bisa menyaksikan monumennya berdiri tegak di daerah Simpang Balapan.

Bahasa Walikan Malang

Bahasa khusus ini juga dapat digunakan untuk mengenali siapa lawan dan siapa kawan, karena pada masa itu, mata-mata belanda sudah menyebar kemana-mana dan para pejuang agak kesulitan untuk membedakannya.

Suyudi Raharno lah yang pertama kali mencetuskan ide untuk menciptakan bahasa baru sebagai identitas mereka. Ia adalah salah satu anggota GRK yang dipimpin Mayor Hamid Rusdi. Lelaki ini mencari pola bahasa bagaimanakah yang lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) pada masa itu. Istilah bahasa khusus ini nantinya juga tidak mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa khusus tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan. Dan taraaa….. dengan kreatifnya lelaki ini mengucapkan kosa kata baru dengan cara terbalik dari belakang dibaca ke depan.

Pada masa itu tidak mungkin para laskar GRK memakai bahasa Jawa karena banyak dari mata-mata belanda yang ternyata orang pribumi sendiri. Ini membuat posisi mereka menjadi riskan jika harus menggunakan bahasa Jawa. Lha bagaimana tidak, musuhnya ternyata ono seng podo Jowone. Musuhnya ada yang sesama orang Jawa yang pasti paham bahasa Jawa.

Karena keakraban dan pergaulan sehari-hari maka para laskar GRK ini dalam waktu singkat dapat fasih menggunakan ‘bahasa khusus’ ini. Sedangkan lawan dan para penyusup yang memang tidak setiap hari bergaul dengan sendirinya akan kebingungan dan selalu ketinggalan istilah-istilah baru. Maka siapapun yang tidak fasih mempergunakan osob kiwalan ini pasti bukan dari golongan mereka. Ini membuat mereka mudah menyadari kehadiran para penyusup  dengan cepat. Dengan begitu rahasia komunikasi tetap terjaga di antara kalangan mereka sendiri.

Saya jadi ingat waktu SMA salah seorang teman menciptakan bahasa sendiri khusus untuk kelas kami saja. Namun bahasanya tidak dibalik, hanya ditambah konsonan saja. Dan nyatanya memang seperti tercipta bahasa yang baru. Yah, begitulah masa SMA. Masa-masa di mana saya nggak mikir harga telor yang susah diprediksi. Ok, abaikan paragraf ini.

Karena bahasa walikan sangat bebas dan longgar aturannya maka kemungkinan pengembangannya sangat luas. Untuk itu perlu disepakati beberapa istilah penting di kalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya.

Misal kata ‘Belanda’ dalam bahasa Jawa disebut ‘Londho’ yang cukup sulit dibaca terbalik, maka dicari istilah padanannya yaitu ‘Nolo’. Demikian juga dengan ‘Polisi’ bukan menjadi ‘Isilop’ namun cukup ‘Silop’. Kemudian untuk ‘mata-mata’ bila dibaca terbalik menjadi ‘atam’. ‘Keat Atam’ atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut ‘ketek’ adalah sebutan yang pas untuk para mata-mata pribumi.

Nama peralatan perang juga dirasa perlu untuk dicari istilahnya yang pas. Misal kode samaran ‘Benduk’ dengan laras panjang (dowo = panjang dalam bahasa Jawa) disebut ‘benduk owod’ atau disingkat ‘owod’ saja. Sedangkan untuk menunjuk masyarakat suku / etnik tertentu disebut ‘onet’ untuk golongan Cina (asal kata ‘cino’ dalam bahasa Jawa), ‘arudam’ untuk madura, ‘arab’ menjadi ‘bara’ dan seterusnya.

Untuk menyebut diri seseorang digunakan ‘uka’ = aku, ‘ayas’ = saya, ‘umak’ = kamu, ‘okir’ = riko (kamu dalam bahasa madura). Sampai sekarang penggunaan kosa kata ini masih popular digunakan warga Malang.

Untuk menyebut sesuatu yang baik atau bagus digunakan istilah ‘nez’ yang berasal dari asal bahasa arab ‘zen’. Begitu pula dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah, Bapak) orang arab biasa menyebut dengan ‘abah’ atau ‘sebeh’ yang kemudian menjadi ‘ebes’. Istilah ‘ebes’ kemudian menjadi populer ditujukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi kepada para pemimpin atau pemuka masyarakat yang dituakan oleh segenap masyarakat Malang sampai sekarang.

Sederhananya boso walikan hanya mengubah cara bacanya saja. Kata yang lazimnya dibaca dari kiri ke kanan dalam boso walikan dibaca dari kanan ke kiri. Bahasa yang bisa dibalik juga bisa berasal dari Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Karena itu pula, boso walikan selalu berkembang karena pasti banyak kata-kata yang bisa dibalik.

Suyudi Raharno, pencetus boso walikan ini pada akhirnya berhasil ditangkap Belanda pada September 1949 dipinggiran wilayah dukuh Genukwatu sekitar wilayah sekarang Purwantoro. Begitu pula, salah seorang kawan akrabnya yang turut mencetuskan ‘osob kera ngalam’ bernama Wasito juga gugur dalam pertempuran di daerah Gandongan Pandanwangi. Kedua kera ngalam ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati di daerah Veteran.

Bahasa Walikan Malang

Taman Makam Pahlawan Suropati Malang

Di sekitar rumah saya banyak sekali anak-anak kos dan pendatang, maklum rumah saya dekat area kampus. Banyak dari mereka yang kesulitan berkomunikasi dan ingin belajar boso walikan ini tapi kadang malu tanya sama teman. Nah, kalo kebetulan tanya nya ke saya, bakal tak jawab, googling di blog saya aja, Mas. Ada kok. He..he..

Tapi ini hanya sebagian aja ya, soalnya kalo ditulis semua bisa keriting jari saya.

Ngalam = Malang kunam = manuk (ngurub = burung)
Arudam/Arodam = Madura lecep = pecel
Ayabarus/Oyoborus = Surabaya ciwe = weci
Ngarames = Semarang rayab = bayar
Naurusap = Pasuruan dirayabi = dibayari
Ngundab = Bandung ebes = bapak, panggilan hormat tidak formal
Atrakaj = Jakarta oges = sego (Indonesia: nasi)
Nukus = Sukun, nama tempat di Kota Malang osob = boso (Indonesia: bahasa)
Onosogrem = Mergosono, nama tempat osob kiwalan = boso walikan
Otrahum = Muharto, nama tempat di kota Malang ayas = saya
Nahelop = Polehan, nama tempat di kota Malang nganem = menang
Onet = Cina kera = arek (Jawa standar: bocah)
genaro = orang hamur = rumah
Nolo = Belanda Main – becus, bermain
silup = polisi Menclek – gila
nolab = balon/pelacur Mengong – gila, bloon
sam = mas Nendes Kombet – Senden tembok
nganal = lanang (Indonesia: laki-laki/pria) Ngalup – pulang
Nawak -Kawan Nganal – laki-laki
ngonceb = bencong (Indonesia: waria) Nganem – menang
nakam = makan Ngarames – Semarang
asrob = minum Ngayambes – sembahyang, sholat
oskab = bakso Ngentit – mencuri
Rudit = Tidur Ngesop – Pusing
Ngohop -Pohong Ngetem – hamil
Nayamul – Lumayan Ngingub – bingung

About Santi Suhermina

Santi Suhermina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*